Guru yang baik

May 25th, 2007 by desipurnama
Cermin diri…hicks…aku bukan guru yang baik untuk murid-muridku…Jadi sedih deh…setelah baca kiriman teman ini…
Namanya Ny. Thompson. Ia berdiri di depan ruang kelas 5 pada hari pertama tahun pengajaran, dan berbohong kepada murid-muridnya. Seperti kebanyakan pengajar, ia memandang ke seluruh murid dan berkata bahwa ia memperhatikan seluruh murid dengan adil. Tetapi hal itu tidak mungkin, karena di barisan depan, ada seorang anak yang duduk dengan menggelesot namanya Teddy Stoddard.
Ny. Thompson sudah mengawasi Teddy setahun sebelumnya dan ia memperhatikan bahwa dia tidak bisa bermain dengan baik dengan anak-anak yang lain karena bajunya morat marit dan terlihat selalu perlu untuk dimandikan. Dan Teddy bisa jadi tidak suka. Itu semua mendapat penilaian, dimana Ny.Thompson kenyataannya akan memberikan tanda khusus di laporan Teddy dengan tinta merah besar, membuat X tebal dan memberi tanda F besar di atas kertas laporan Teddy.
Di sekolah tempat Ny.Thompson mengajar, ia diminta untuk melihat ulang catatan murid-muridnya di tahun sebelumnya, dan ia membiarkan cacatan Teddy di giliran terakhir. Saat membaca catatan Teddy ia terkejut.
Guru kelas satu Teddy menulis,Teddy adalah anak yang cemerlang dan ceria. Ia mengerjakan perkerjaannya dengan rapi dan memiliki hal-hal yang baik.Ia membawa kegembiraan bagi sekitarnya.
Guru kelas duanya menulis, Teddy adalah murid yang sempurna, sangat disukai oleh seluruh temannya, tetapi ia terganggu karena ibunya sakit stroke dan untuk tinggal di rumah adalah suatu perjuangan bagi Teddy.
Guru kelas tiganya menulis, Ia mendengar kematian ibunya. Ia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi ayahnya tidak menunjukkan ketertarikannya dan kehidupan di rumah akan segera mempengaruhinya jika tidak ada langkah-langkah yang dilakukan.
Guru kelas empat Teddy menulis, Teddy menjadi mundur dan tidak tertarik ke sekolah. Ia tidak punya banyak teman dan terkadang tertidur di kelas.
Setelah itu, Ny. Thompson menyadari masalahnya dan dia malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak enak ketika murid-muridnya membawa hadiah natal, dibungkus dengan pita-pita yang indah dan kertas yang menyala, kecuali pemberian Teddy. Hadiah dari Teddy kumal bentuknya dan dibungkus dengan kertas coklat yang diambil dari tas belanja.
Ny.Thompson dengan terharu membuka kado Tedy ditengah-tengah kado yang lain. Anak-anak mulai tertawa saat ia menemukan gelang batu dimana beberapa batunya hilang, dan sebuah botol yang berisi parfum setengahnya.
Tetapi ia menyuruh murid-muridnya diam dan menyatakan bahwa gelang pemberian Teddy sangat indah, serta mengoleskan parfum di pergelangan tangannya.
Setelah sekolah usai, Teddy Stoddard tetap tinggal, menunggu cukup lama untuk mengatakan, Ny. Thompson, hari ini bau wangi anda seperti ibu saya. Setelah murid-muridnya pergi, Ny.Thompson menangis hampir selama satu jam. Hari berikutnya Ny.Thompson berhenti untuk mengajar membaca, menulis dan aritmatika. Sebagai gantinya ia mulai mengajar anak didiknya.
Ny. Thompson memberi perhatian khusus kepada Teddy. Selama bekerja dengannya, pikiran Teddy mulai hidup. Semakin ia mendorong Teddy, semakin cepat Teddy memberikan tanggapan.
Di akhir tahun, Teddy menjadi anak terpandai di kelas, akan tetapi Ny. Thompson jadi berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan memperhatikan murid-muridnya secara adil, karena Teddy telah menjadi murid kesayangannya.
Satu tahun berlalu, Ny. Thompson menemukan sebuah surat dibawah pintu, dari Teddy, yang mengatakan bahwa ia adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.
Enam tahun berlalu sebelum ia menerima surat yang lain dari Teddy. Ia menulis sudah menamatkan SMU, ranking tiga di kelas, dan Ny.Thompson tetap guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.
Empat tahun berikutnya, ia menerima surat yang lain, mengatakan bahwa saat orang memikirkan banyak hal, ia tetap tinggal di sekolah dan mempertahankannya, dan segera lulus dari akademi dengan penghargaan tertinggi. Dia meyakinkan Ny. Thompson, bahwa dia tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.
Kemudian empat tahun berlalu dan surat yang lain datang lagi.Saat ini dia menjelaskan setelah menyelesaikan gelar sarjananya, dia memutuskan untuk melanjutkan sedikit lagi. Surat itu menjelaskan bahwa Ny. Thompson tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya. Tetapi namanya telah sedikit lebih panjang surat ditandatangani oleh Theodore F. Stoddard, MD.
Kisahnya tidak berakhir disini. Masih ada surat lagi pada musin semi itu. Teddy berkata bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dan merencanakan untuk menikah. Ia mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia berharap Ny. Thompson bersedia duduk di kursi yang biasanya disediakan untuk ibu pengantin.
Tentu saja Ny. Thompson bersedia.
Dan coba tebak apa berikutnya? Ny. Thompson mengenakan gelang batu dimana beberapa batunya telah hilang. Dan ia memastikan memakai parfum yang diingat Teddy dipakai ibunya pada Natal sebelumnya bersama-sama. Mereka berpelukan, dan Dr. Stoddard berbisik di telinga Ny. Thompson, Terima kasih Ny. Thompson, anda mempercayai saya. Terima kasih karena sudah membuat saya merasa begitu penting dan memperlihatkan bahwa saya dapat membuat perubahan.
Ny. Thompson dengan air mata berlinang, balik berbisik. Ia berkata,Teddy, semua yang kamu katakan keliru. Kamu adalah orang yang telah mengajari bahwa aku dapat membuat perubahan. Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengajar sampai bertemu denganmu.
Hangatkan hati seseorang hari ini .Tolong ingatlah bahwa kemana pun kamu pergi, apa pun yang kamu lakukan, kamu akan punya kesempatan untuk menyentuh atau merubah diri seseorang.
Cobalah lakukan hal itu dengan cara yang positif.
Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang.

Nasehat dari Teman

December 7th, 2006 by desipurnama

Assalamualaikum wrwb,

Semoga semuanya dalam kondisi sehat wal-afiat… Amiin…

Mo curhat nich.. baru-baru ini saya sedang kurang enak badan, mungkin karena kecapean dikejar deadline, ngurus anak, ngurus persiapan pernikahan adinda, ngajar, buat soal, tugas ke luar kota, pelatihan2 dll, sampe akhirnya… hampir collapse… (hehehehe hiperbola….) Pencernaan terganggu, asma saya kambuh, demam, pusing, lidah rasanya pahit, badan rasanya sakiiiiiittttt semua… (hicks…ngeluh-ngeluh…. be tought dong…. hehehe)

Akhirnya curhat ke teman2, juga Allah… dalam curhat saya… isinya cuma keluhaaannnn semua…. " Ya allah, kok badan saya sakit2 gini yach, saya kan udah rajin minum vitamin? Saya masih bannyak kerjaan nich ya Rabb, jangan kasih sakit dong. Saya kan agak endut, kok bisa sakit sich..??? and… bla.bla.bla…." Pokoknya isinya cuma ngeluh aja…. saya lupa kalo harus beristigfar atau bahkan mengucap syukur kepada Allah…

Tiba2 saya membuka email. Ada pesan dari teman saya. isinya cuma singkat. Jangan ngeluh yach, cepet sembuh yach…. coba baca attachment ini…

Setelah membaca, saya jadi benar2 merasa bersyukur… ya Allah…. trimakasih saya diberi rasa sakit…

yach, baca sendiri aja deh… kiriman dari teman saya…

Wassalamualaikumwrwb,

Desi

Ada yang nonton acara reality show Oprah Winfrey, hari Sabtu 9 Sept
2006 yang lalu di MetroTV ? Pada acara tersebut ditampilkan seorang gadis mungil berusia 5 tahun, asal USA, mengenakan kacamata plastik (mirip kacamata renang), lucu, manis, secara fisik terlihat normal (agak gemuk), dan berperilaku seperti anak-anak seusianya pada umumnya. Hanya saja, si gadis kecil ini mengidap suatu penyakit bawaan sejak lahir yang sangat langka, yaitu tidak memiliki rasa sakit (tidak memiliki syaraf rasa sakit) di sekujur tubuhnya. Sejak bayi, si kecil jarang rewel, atau menangis. Hanya terkadang suhu badannya yang menghangat. Penyakit bawaan yang diderita si kecil itupun baru diketahui (kalau tidak salah) ketika sang bocah mencolok-colok matanya karena gatal, dan
tidak menangis kesakitan. Hanya saja darah tetap mengalir keluar. Akibat kejadian tersebut, satu matanya menjadi buta. Setelah kejadian itu, barulah dikenakan kacamata khusus untuk melindunginya. Pernah suatu ketika, ketika gigi si kecil sudah tumbuh, saat kedua orangtuanya agak lengah, si kecil sedang asyik menggigit-gigit jari tangannya sendiri hingga hancur. Tentu saja si kecil tidak tetap tenang karena sama sekali tidak merasakan sakit. Sebagai pencegahan, akhirnya diputuskan untuk mencabut semua giginya, tanpa sisa. Terutama sebagai pencegahan agar dia tidak sampai mengunyah lidahnya sendiri karena akan dianggap sebagai permen karet!!
Karena kejadian-kejadian itulah, si kecil mendapat ‘perhatian dan pengawasan extra’ dari seluruh anggota keluarganya (kedua orang tuanya dan sang kakak). Karena dia telah kehilangan sensitifitas akan adanya bahayabahaya yang bisa menimpanya, hingga kini.
Semoga bermanfaat, dan bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Dan kita kembali merenungi dan mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan Allah Subhana wata’ala kepada kita serta meyakini bahwa segala ciptaan dan pemberian Allah Subhana wata’ala adalah tidak sia-sia. Termasuk rasa sakit yang seringkali kita tidak sabar untuk menghadapinya. "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka"

Tedy Ramadanus PT Holcim Indonesia Tbk
INFORMATION TECHNOLOGY DEPT
Jamsostek Tower, North Building, 15th Floor, Jl. Jenderal Gatot
Subroto

CINTA

February 27th, 2006 by desipurnama

I_love_you_rose

(kiriman dari Teman)

untuk Anda yang telah dan sedang mencari pasangan
hidup…

Antara Cinta dan Kecocokan

Apa yang Anda lihat dari pasangan Anda, Cinta atau
cocok? Hal-hal yang membuat anda Cinta padanya atau
Hal-hal yang Anda merasa Cocok dengan pasangan? Apakah
harus mencari kecocokan dulu untuk mencintai
seseorang, ataukah mencintai seseorang dan lalu
mencari kecocokan diantara Anda dan pasangan Anda?

Seringkali Tanpa sadar kita terjebak pada pemikiran
seperti ini, bahwa mengarungi hidup dengan seseorang
yang kita cintai harus mempertimbangkan mengenai
adanya kecocokan atau ketidak-cocokan antara kita
dengan pasangan.. Suatu pemikiran yang menurut saya
(jika tidak bisa dikatakan sangat mustahil) amat sulit
untuk diterapkan.

Bagaimana mungkin mencari seseorang yang memiliki
semua hal-hal yang harus cocok dengan Anda??? Mungkin
dalam beberapa hal Anda memiliki kecocokan dengan
pasangan Anda, tapi coba lihat.. betapa banyak
ketidak-cocokan yang ada pada Anda dan pasangan Anda.
Lalu apakah itu lantas menjadi alasan Anda tidak bisa
berjalan bersama dengan pasangan (suami atau isri)
menapaki perjalanan yang panjang, sebagaimana apa yang
dulu Anda dan pasangan Anda cita-citakan… menjalani
hidup bersama dalam suka dan duka karena sesungguhnya
Allah adalah Saksi bagi tiap2 pernikahan manusia.

Begitu banyak hal2 yang tidak Anda sukai pada pasangan
Anda. Begitu banyak hal2 yang tidak cocok antara Anda
dengan pasangan. Barangkali kalau Anda buat daftar
apa2 yang Anda sukai, bisa jadi ternyata tidak sama
dengan apa yang disukai pasangan Anda.

Mari kita lihat:

- Untuk hal-hal yang prinsip, mungkin Anda
tidak cocok dengan pasangan (istri) dalam hal mendidik
anak. Anda mungkin lebih memilih menerapkan sikap
tegas dan keras dalam mendidik anak, sedangkan
pasangan Anda mungkin memilih menerapkan kasih sayang
dan kelembutan.. TIDAK COCOK!

- Contoh hal yang ringan.. Anda mungkin
menyukai hal-hal yang bersifat kegiatan di luar rumah,
misalnya Makan di luar, Nonton Bioskop, Melakukan
Petualangan (Riding) ke luar kota.. Mungkin pasangan
Anda tidak menyukai semua itu… TIDAK COCOK!

- Mungkin Anda termasuk orang yang sangat
perfeksionis dan suka memperhatikan segala sesuatu
secara detail.. Sementara pasangan Anda termasuk orang
yang agak ceroboh dan kurang memperhatikanhal2
detail… TIDAK COCOK!

- Misal Anda suka membaca, sementara pasangan
Anda tidak.. TIDAK COCOK!

- Barangkali Anda termasuk penyuka film
Action/Thriller/Drama/Fiksi, sedangkan pasangan Anda
menyukai film Komedi.. TIDAK COCOK!

- Anda termasuk orang yg boros, pasangan Anda
hemat.. TIDAK COCOK!

Dan masih banyak hal lain yang bisa kita buat sebagai
daftar ketidak cocokan…

Bisa jadi banyak hal2 yang mungkin disukai pasangan
Anda, sementara Anda tidak menyukainya… Karena
Manusia pada dasarnya memang dilahirkan sebagai
makhluk yang kompleks dan dengan isi kepala dan
keinginan yang beragam, dan selalu mengalami perubahan
seiring dengan pertambahan usia yang mempengaruhi
kedewasaan sikap seseorang. Maka akan selalu ada
ketidak-cocokan antara Anda dengan pasangan Anda.
Allah menciptakan segala sesuatu berlawanan di dunia
ini, dan menjadikan semua itu sesuatu yang Anda sebut
sebagai HARMONI.. KESEIMBANGAN.

THEN SO WHAT????

Apakah ini menjadi penghalang untuk Anda bisa terus
berjalan dengan pasangan Anda???

No, I dont think so!!!

Ketidak-cocokan adalah anugerah yang membuat hidup
Anda sangat dinamis dan semarak. Allah menciptakan
segala sesuatu berlawanan di dunia ini, dan menjadikan
semua itu sebagai sesuatu yang sering kita sebut
sebagai HARMONI.. KESEIMBANGAN dan KESELARASAN.

Ketidak-cocokan adalah sarana bagi Anda untuk saling
menghargai pasangan Anda, menerima pasangan Anda apa
adanya.. as a human being. Not as an angel.. Karena
kesempurnaan adalah milik Sang Khalik dan apa2 yang
Dia inginkan agar sempurna.

Ketidak-cocokan adalah cara Anda untuk menyatakan:

"HOW MUCH I LOVE YOU.. I dont care about what’s
different between us. What I care is, God has given me
some one to whom I fall in love with.. Fall in love
with you…" Allah yang memberikan kasih sayang ini
(atau apa yang Anda sebut sebagai CINTA) agar Anda
bisa menjalani kehidupan ini seterusnya bersama
pasangan Anda.

Allah yang menciptakan cinta yang tumbuh di hati Anda
dan pasangan Anda masing-masing, dan Allah yang
mempertautkannya sehingga Anda menjadi
berpasang-pasangan, dalam ikatan pernikahan… Agar
dengannya Anda bisa menikmati kenikmatan duniawi,
memiliki keturunan.. Hidup dalam kesempurnaan sebagai
manusia.. Hidup dalam keharmonisan dan keselarasan
sebesar apapun perbedaan yang ada karena cinta telah
menjadi pengikat yang erat.. dan cita-cita yang sama
sebagai tujuan hidup, menjadi keluarga didalam
Tuhan… Hingga akhir hayat Anda. Dan… Cinta jugalah
yang pada akhirnya akan mempertemukan Anda dan
pasangan Anga kelak di akhirat nanti..

Cinta Sejati

Cinta sejati adalah cinta yang berakar di dalam hati,
tumbuh dan bersemi setiap hari, setiap saat, setiap
detik, tak kenal waktu, dan yang menjadikan Anda dan
pasangan Anda bangun dan terjaga setiap pagi dan
merasa Anda seakan baru saja bertemu dan merasakan
jatuh cinta dengan pasangan Anda kemarin..

Cinta sejati adalah ketika Anda merayakan hari jadi
pernikahan yang ke 5.. ke 10.. ke 15.. ke 17.. ke 20..
ke 25 dan seterusnya, sementara Anda seakan merasa
bahwa Anda baru saja menikah setahun yang lalu, atau 6
bulan yang lalu, atau.. rasanya baru seminggu yang
lalu.. atau, ahhh.. seperti baru terjadi kemarin. J

Cinta sejati adalah cinta yang tidak mengenal
perbedaan n ketidak cocokan. Cinta sejati adalah cinta
yang karenanya Anda bisa mengabaikan hal-hal yang
negatif pada pasangan Anda dan menjadikan Anda yakin
dan berani mengatakan bahwa pasangan Anda (saat ini)
adalah yang sempurna dan yang membuat Anda sempurna…
dan lengkap. "You fill me up and you make my life
complete n you complete me", begitu orang barat sering
bilang… J

Bagi yang telah menjalani kehidupan sebagai suami
istri, cobalah hitung berapa lama anda telah menjalani
kehidupan dengan pasangan anda. Pernahkah anda
merasakan, sepertinya baru kemarin anda dan pasangan
bertemu.. Dan lihatlah, betapa banyak perbedaan dan
ketidak cocokan yang ada pada anda dan pasangan anda..
Namun betapa hebatnya cinta yang anda dan pasangan
anda miliki, telah merubah ketidak-cocokan menjadi
sebuah KEHARMONISAN.. dan KESELARASAN.. Itulah
keindahan dari Cinta..

Hakekat Cinta yang sesungguhnya.

Mencari Pasangan Yang Cocok???

Memang tidak selamanya salah, namun juga tidak
seharusnya demikian. Why? Alasan mencari kecocokan
atau menghindari ketidak-cocokan, hanya akan
menjadikan seseorang berada dalam pencarian yang tidak
berakhir.. How come? Karena tidak mungkin mencari
seseorang yang 100% memiliki kesamaan dan kecocokan
dengan Anda. Masa berpacaran (apalagi berlama-lama)
yang menjadi dalih untuk mencari tahu kesesuaian
(kecocokan) antara laki2 dan perempuan, hanya akan
merugikan pihak perempuan. Apakah Anda ingin
‘dipacari’ ketika pasangan Anda merasa cocok dengan
Anda, lalu suatu ketika Anda ditinggalkan pasangan
Anda hanya karena pasangan Anda mendapatkan kenyataan
bahwa Anda dan pasangan tidak memiliki kecocokan. Atau
sebaliknya.. apakah Anda begitu tega hati ‘memacari’
pasangan Anda semata-mata untuk mencari kecocokan
terlebih dahulu dan lalu meninggalkan pasangan Anda
ketika menyadari tidak cocok.

Apalagi sampai ‘habis manis sepah dibuang’… Itukah
yang Anda inginkan? Tegakah Anda bersikap seperti
demikian?

Think About It!!!

Maka ketika Anda merasakan Cinta itu datang –Cinta
yang datangnya dari hati dan bukan Cinta yang
disilaukan oleh pandangan.. pasangan yang
cantik/gagah, harta yang melimpah, sikap yang baik dan
manis, dll– maka tangkaplah. Cinta yang Allah telah
menggetarkan lubuk hati Anda yang paling dalam dan
memberikan keyakinan pada Anda.. bahwa inilah pasangan
(jodoh) yang diberikan Allah kepada Anda. Dan ketika
anda ragu.. maka berdoalah: "Ya Allah, jika dia memang
benar-benar seseorang yang baik untukku dan Engkau
berikan untukku, maka dekatkanlah dan permudahlah..
Namun jika dia memang seseorang yang kelak akan
membawa hal negatf bagiku, maka bukakanlah mata hatiku
agar aku bisa melihatnya"..

Sesungguhnya wanita yang baik akan memperoleh
laki-laki yang baik.. Dan laki-laki yang baik, akan
memperoleh wanita yang baik..

Hukum "Tabur Tuai akan berlaku…"

"Sebuah Pemikiran" 23 Februari 2006 …

Biographies of Companions

February 27th, 2006 by desipurnama

Tajmahal

Abu Dharr al-Ghifari

In the Waddan valley which connects Makkah with the outside world, lived the tribe of Ghifar. The Ghifar existed on the meagre offerings of the trade caravans of the Quraysh which plied between Syria and Makkah. It is likely that they also lived by raiding these caravans when they were not given enough to satisfy their needs.  Jundub ibn Junadah, nicknamed Abu Dharr, was a member of this tribe.

He was known for his courage, his calmness and his far sightedness and also for the repugnance he felt against the idols which his people worshipped. He rejected the silly religious beliefs and the religious corruption in which the Arabs were engaged.

While he was in the Waddan desert, news reached Abu Dharr that a new Prophet had appeared in Makkah. He really hoped that his appearance would help to change the hearts and minds of people and lead them away from the darkness of superstition. Without wasting much time, he called his brother, Anis, and said to him:

"Go to Makkah and get whatever news you can of this man who claims that he is a Prophet and that revelation comes to him from the heavens. Listen to some of his sayings and come back and recite them to me."

Anis went to Makkah and met the Prophet, peace and blessings of God be on him. He listened to what he had to say and returned to the Waddan desert. Abu Dharr met him and anxiously asked for news of the Prophet.

"I have seen a man," reported Anis, ‘who calls people to

noble qualities and there is no mere poetry in what he says."

"What do people say about him?" asked Abu Dharr.

"They say he is a magician, a soothsayer and a poet."

"My curiosity is not satisfied. I am not finished with this matter. Will you look after my family while I go out and examine this prophet’s mission myself?"

"Yes. But beware of the Makkans."

On his arrival at Makkah, Abu Dharr immediately felt very apprehensive and he decided to exercise great caution. The Quraysh were noticeably angry over the denunciation of their gods. Abu Dharr heard of the terrible violence they were meting out to the followers of the Prophet but this was what he expected. He therefore refrained from asking anyone about Muhammad not knowing whether that person might be a follower or an enemy.

At nightfall, he lay down in the Sacred Mosque. Ali ibn Abi Talib passed by him and, realizing that he was a stranger, asked him to come to his house. Abu Dharr spent the night with him and in the morning took his water pouch and his bag containing provisions and returned to the Mosque. He had asked no questions and no questions were asked of him.

Abu Dharr spent the following day without getting to know the Prophet. At evening he went to the Mosque to sleep and Ali again passed by him and said:

"Isn’t it time that a man knows his house?"

Abu Dharr accompanied him and stayed at his house a second night. Again no one asked the other about anything.

On the third night, however, Ali asked him, "Aren’t you going to tell me why you came to Makkah?"

"Only if you will give me an undertaking that you will guide me to what I seek."  Ali agreed and Abu Dharr said:  "I came to Makkah from a distant place seeking a meeting with the new Prophet and to listen to some of what he has to say."

Ali’s face lit up with happiness as he said, "By God, he is really the Messenger of God," and he went on telling Abu Dharr more about the Prophet and his teaching. Finally, he said:

"When we get up in the morning, follow me wherever I go. If I see anything which I am afraid of for your sake, I would stop as if to pass water. If I continue, follow me until you enter where I enter."

Abu Dharr did not sleep a wink the rest of that night because of his intense longing to see the Prophet and listen to the words of revelation. In the morning, he followed closely in Ali’s footsteps until they were in the presence of the Prophet.

As-salaamu Alayka Yaa Rasulullah, (Peace be on you, O Messenger of God)," greeted Abu Dharr.

Wa Alayka salaamullahi wa rahmatuhu wa barakaatuhu (And on you be the peace of God, His mercy and His blessings)," replied the Prophet.

Abu Dharr was thus the first person to greet the Prophet with the greeting of Islam. After that, the greeting spread and came into general use.

The Prophet, peace be on him, welcomed Abu Dharr and invited him to Islam. He recited some of the Quran for him. Before long, Abu Dharr pronounced the Shahadah thus entering the new religion (without even leaving his place). He was among the first persons to accept Islam.

Let us leave Abu Dharr to continue his own story…

After that I stayed with the Prophet in Makkah and he taught me Islam and taught me to read the Quran. Then he said to me, ‘Don’t tell anyone in Makkah about your acceptance of Islam. I fear that they will kill you."

"By Him in whose hands is my soul, I shall not leave Makkah until I go to the Sacred Mosque and proclaim the call of Truth in the midst of the Quraysh," vowed Abu Dharr.

The Prophet remained silent. I went to the Mosque. The Quraysh were sitting and talking. I went in their midst and called out at the top of my voice, "O people of Quraysh, I testify that there is no God but Allah and that Muhammad is the messenger of Allah."

My words had an immediate effect on them. They jumped up and said, ‘Get this one who has left his religion." They pounced on me and began to beat me mercilessly. They clearly meant to kill me. But Abbas ibn Abdulmuttalib, the uncle of the Prophet, recognized me. He bent over and protected me from them. He told them:

"Woe to you! Would you kill a man from the Ghifar tribe and your caravans must pass through their territory?"  They then released me.

I went back to the Prophet, upon whom be peace, and when he saw my condition, he said, "Didn’t I tell you not to announce your acceptance of Islam?"  "O Messenger of God," I said, "It was a need I felt in my soul and I fulfilled it."  "Go to your people," he commanded, "and tell them what you have seen and heard. Invite them to God. Maybe God will bring them good through you and reward you through them. And when you hear that I have come out in the open, then come to me."

I left and went back to my people. My brother came up to me and asked, "What have you done?" I told him that I had become a Muslim and that I believed in the truth of Muhammad’s teachings.

"I am not averse to your religion. In fact, I am also now a Muslim and a believer," he said.

We both went to our mother then and invited her to Islam .

"I do not have any dislike from your religion. I accept Islam also," she said.

From that day this family of believers went out tirelessly inviting the Ghifar to God and did not flinch from their purpose. Eventually a large number became Muslims and the congregational Prayer was instituted among them.

Abu Dharr remained in his desert abode until after the Prophet had gone to Madinah and the battles of Badr, Uhud and Khandaq had been fought. At Madinah at last, he asked the Prophet to be in his personal service. The Prophet agreed and was pleased with his companionship and service. He sometimes showed preference to Abu Dharr above others and whenever he met him he would pat him and smile and show his happiness.

After the death of the Prophet, Abu Dharr could not bear to stay in Madinah because of grief and the knowledge that there was to be no more of his guiding company. So he left for the Syrian desert and stayed there during the caliphate of Abu Bakr and Umar.

During the caliphate of Uthman, he stayed in Damascus and saw the Muslims concern for the world and their consuming desire for luxury. He was saddened and repelled by this. So Uthman asked him to come to Madinah. At Madinah he was also critical of the people’s pursuit of worldly goods and pleasures and they were critical in turn of his reviling them. Uthman therefore ordered that he should go to Rubdhah, a small village near Madinah. There he stayed far away from people, renouncing their preoccupation with worldly goods and holding on to the legacy of the Prophet and his companions in seeking the everlasting abode of the Hereafter in preference to this transitory world.

Once a man visited him and began looking at the contents of his house but found it quite bare. He asked Abu Dharr:  "Where are your possessions?"  "We have a house yonder (meaning the Hereafter)," said Abu Dharr, "to which we send the best of our possessions."  The man understood what he meant and said:  "But you must have some possessions so long as you are in this abode."  "The owner of this abode will not leave us in it," replied Abu Dharr.

Abu Dharr persisted in his simple and frugal life to the end. Once the amir of Syria sent three hundred diners to Abu Dharr to meet his needs. He returned the money saying, "Does not the amir of Syria find a servant more deserving of it than I?"

In the year 32 AH. the self-denying Abu Dharr passed away. The Prophet, peace be upon him, had said of him:  "The earth does not carry nor the heavens cover a man more true and faithful than Abu Dharr."

My Scarf

February 27th, 2006 by desipurnama

By: Nura Alia Hossainzadeh

16e61

They stand there with shorts, so short, excessively short,
shorts that so deceptively capture from them all they know of modesty…

…and I proudly pull my scarf over my hair

They stand there, face lost in a sea of make-up,
make-up that so ruthlessly captures from them all they know of freedom…


…and I proudly pull my scarf over my hair

They stand there, hair raining with gels, colors -
chemicals that so menacingly capture from them all they know of purity…


…and I proudly pull my scarf over my hair

They stand there, so close, so very close to their "lover",
devoted to them, the devotion that so mercilessly captures from them all they know of individuality…


…and I proudly pull my scarf over my hair

And they stand there, talking of getting new shorts, new gels
and colors, new boyfriends, materialistic things
that so wrongfully capture from them all they know of God and love…

and I proudly pull my scarf over my hair

For my scarf is my protector, my lover, my devotion,
my pureness, my beauty, my rememberance of God,

And I proudly pull it over my hair knowing that when I wear it,
I so rightfully thrust away all the things that the devil brought about,

And when I put it on,
I am Free…

My Music

February 14th, 2006 by desipurnama

My Fave Musician

- Glenn Fredly (Indonesian)

- Yovie Widianto (Indonesian)

- Baby Face

- Destiny’s Child

- Hirai Ken (Japanenese)

- Chemistry (Japanese)

- Crystal Kay (Japanese)

- Stevie Wonder

- Gipsy King (Latin)

- Whitney Houston

- Usher

- Christian Buatista (Filipino)

- Chaka Kan

- Michael Jackson

Short Story

February 14th, 2006 by desipurnama

Terharu deh… dari milis juga…

Cinta Laki-laki Biasa

Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa
—————————————————–

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia
mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari
yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata
miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,
kakak-kakak,
tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari
sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan
lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang
barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.
Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya
menarik
nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil
dan
spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang
pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli
untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena
semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang
sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua,
disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa
dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania
bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang
balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli
memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli
berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda
baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu
berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh
seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya
pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif
bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa
saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana,
sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca
puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu
yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki
manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,
kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian
mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat
tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan
biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat
biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

"Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi
parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan
melihat
pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.
Barangkali
karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak
punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’.
Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania
menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di
sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik
di
belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania
masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak
di
mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga
Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau
cara
dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat
bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini
dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik
mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan
tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah
menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.
Padahal
Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu
perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka
memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari
cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu
memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu
khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya
maksud baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu
sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran
Nania
cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan
pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat
sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin
gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar
dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu
berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan
kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania
belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan
bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak.
Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu
dari waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera
dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke
dalam
rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan
itu
merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam
hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya
waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta
orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi
pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian
menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang
memeriksa
memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah,
didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.
Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua
kehidupan.

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang
karena
Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.
Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan
dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,
dan
langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan
diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir
lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.
Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung
beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu
sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak
sampai
empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di
rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.
Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania
dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah
sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak
perusahaan
tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi
Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran
kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang
perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka,
melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda
mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir
untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit,
mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang
lelaki
itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya
dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak
bosan-bosannya berbisik,

"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan
Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber
semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya.
Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,
gerak
bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang
cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah
penat
Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan
mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata
yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.
Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun
terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke
sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu
cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang
jatuh
cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan
wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania
selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu
meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan
paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.
Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti
juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di
sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di
jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas
hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua
berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya
memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan
Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin
frustrasi,
merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di
luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu
begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,
anak-anak
yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang
lebih
dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski
kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir
dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa
yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 28 Juni 2005, dengan pembenahan
beberapa ejaan dan tanda baca.

Short Story

February 14th, 2006 by desipurnama

Dapat dari Milis…**terharu dehhh**

Gadis Pujaan

Tulisan 8 Januari 1995 Ry,
seperti biasa sore ini aku memandang ke luar jendela, nunggu someone. Seorang gadis yang tak kuketahui nama dan rumahnya dimana, tapi selalu kulihat setiap pagi dan sore berjalan di depan rumahku. Kamu tahu kan Ry, kalau aku suka sama "gadis pujaanku"
Sejak 2 tahun yang lalu. Ia membawa pesona yang lain dari yang lain. Wajahnya yang baby-face, hidungnya yang mancung, matanya yang bulat, bibirnya yang mungil dan rambutnya yang panjang ditambah kulitnya yang mulus, maka lengkaplah sudah ia menjadi "gadis pujaanku", Ry!
9 Januari 1995,
Hari ini perasaanku kacau ,Ry. Setelah melihat "gadis pujaanku" bergandengan tangan dengan cowok lain. Kamu bisa membayangkan dong, bagaimana perasaanku, Ry? Aku tidak rela melihat mereka berdua. "Si gadis pujaanku" digandengnya dengan mesra. Ingin rasanya memisahkan mereka, tapi apa dayaku?Aku bukan siapa-siapanya, Ry. Gimana, dong???
10 Januari 1995 Ry,
Setelah kejadian kemarin aku jadi nggak punya semangat hidup. Makan nggak enak, tidur tak nyenyak dan belajar pun tak mengerti. Pokoknya hari ini hari beteeee banget!
19 Februari 1995 Maaf ya Ry,
Udah sebulan nggak ketemu. Biasa lagi males, nich! Tapi kamu tetep jadi sohib terbaikku kok! Tau nggak Ry, ternyata "si gadis pujaanku" udah pegat ama cowoknya. Aku tau tahu itu waktu kemarin di Mall CINERE, mereka lagi marahan. Wuiih, aku jadi seneng deh, berarti masih ada kesempatan, dong! Pokoknya selama janur kuning belum terpasang , masih ada kesempatan lah!
20 Februari 1995 Ry,
Hari ini ada berita yang menggemparkan seluruh isi dunia, lho. (nggak juga sich!). Itu tuh, " si gadis puajaanku" potong rambut, bondol lagi! Tapi nggak apalah dia tetep cuantik kok, nggak kalah dech ama yang namanya Demi Moore. Dia jadi tambah imut, lho. Wah, coba kalau kamu punya mata Ry, kamu bakalan jadi sainganku dech! Percaya nggak ??
25 April 1995 Nggak kerasa ya Ry,
Wwaktu berlalu dengan cepat. Aku udah mau ujian semester genap. Mau naik kelas III. Eh, ngomong-ngomong dia juga lagi pengen EBTANAS, nich! Kira-kira "si gadis pujaanku" masuk SMU mana ya? Masuk ke SMU-ku, nggak? Udah ah, jangan mikirin dia mulu kapan belajarnya, donk! N’tar nilainya jelek, dech. Nggak mauuuu…
13 Juli 1995 Eh Ry,
Sekarang aku udah kelas III SMU, nich! Udah gede yah, walau kadang-kadang aku masih merasa seperti anak kecil. Tapi hari ini aku lagi seneng banget soalnya nilai raportku lumayan bagus, rangking 3, boo!! Siiplah, koleksi Tamiya-ku nambah satu, dech. (hadiah dari bokap). Eh Ry, "si gadis pujaanku" ternyata masuk SMU favorit lho, SMU 999. Wow, nggak sembarangan orang tuh yang bisa masuk ke SMU itu. Ternyata "gadis pujaanku" pinter juga, yah! (Jadi bangga, nich!).
14 Juli 1995,
Hari ini ada pemandangan aneh lho, Ry. "si gadis pujaanku" lagi MOS, deh! Tau kan MOS? Itu lho, Masa Orientasi Siswa. Soalnya rambutnya yang bagus itu diiket sembilan, terus bawa-bawa kardus Indomie pula dipunggungnya (kaya pemulung aja, ya!). Tapi "si gadis pujaanku" itu tetep aja cuaantik! Pokoknya didandanin seperti apapun, si gadis tetep aja cantik bagiku! (bener, lho!!).
19 Juli 1995,
Hari ini aku dibikin malu sekelas, Ry. Dasar si doer Slamet, dia koar-koar ke seluruh isi kelas kalo aku lagi suka sama seorang gadis. Aku yang terkenal dingin ama cewek ini, jadi ketauan deh belangnya. Memang salahku juga sih, curhat di belakang buku matek’s (habis lagi bete sih!). Terus dibaca deh, ama si doer Slamet. Tapi yang membuatku lebih malu lagi, itu ulahnya si Tejo cs. Mereka berteriak " Woro-woro! Ada kabar gembira lho, Temen kita yang satu ini udah normal kembali, lho!". Dasar gila!
21 Juli 1995,
Surprise!! Hari ini "si gadis pujaanku" berangkat ke sekolah dengan penutup kepala alias kerudung. Aduh sayang deh, rambutnya yang lebat dan hitam itu tertutup oleh sehelai kain. Tapi biarlah, dia tetep cantik bagiku dengan tubuhnya yang langsing dan kulit wajahnya yang putih itu, Ry. Nggak apa-apa dong, Ry!
22 November 1995,
Dari hari ke hari aku nambah bingung lho, Ry! "Si gadis pujaanku" banyak berubah. What’s happened with my girl? Awalnya dia potong rambut terus pake kerudung dan sekarang dia pakai jubah (gamis), Ry! Coba bayangkan, tubuhnya yang langsing itu tidak terlihat lagi. Tapi ada yang aneh deh. Apanya yah? Oh iya, dia nambah anggun lho!
14 Maret 1996,
Hari ini aku nekat ngikutin dia,Ry. Kebetulan hari ini kan hari minggu, lagi libur sekolah. Tapi "si gadis pujaanku " seperti biasa dengan jubahnya yang dikenakannya itu, dia pergi entah kemana yang nantinya aku juga akan tau. Selama perjalanan aku berusaha agar nggak diketahui olehnya, hingga pada suatu tempat ia berhenti dan masuk ke dalam gedung. Ada acara apa, ya? Ternyata acara seminar. Setelah aku baca spanduk besar yang terpampang dengan judul "INDAHNYA ISLAM", aku jadi tertarik dengan acara tersebut, Ry. Akhirnya aku ikuti acara tersebut sampai habis, kemudian pada akhirnya aku merasakan ada suatu kalimat yang membuat aku terkesima yaitu ketika pembicara mengatakan "… Allah bukan hanya sebagai pencipta, melainkan Dia juga sebagai pengatur. Segala sesuatu diatur oleh-Nya, termasuk segala perbuatan kita. Dan Islam mempunyai semua aturan itu". Karena kalimat itulah aku merasa terpanggil untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang agamaku sendiri. Tanpa terasa si gadis pun terlupakan olehku, Ry.
29 Oktober 1996 Ry,
Sudah tujuh bulan ini aku belajar tentang Islam. Mulai dengan membaca buku-buku tentang Islam, mendengar ceramah sampai mengikuti berbagai seminar. Seperti halnya pada hari ini, aku mengikuti sebuah seminar yang berjudul "Nidzomul Ijtima’i fil Islam" (Sistem Pergaulan dalam Islam). Dari sini aku mulai mengetahui mengapa si gadis memakai jilbab (pakaian longgar yang menutupi tubuh tanpa potongan alias jubah), karena itu memang sudah menjadi kewajibannya, terus larangan berpacaran, kewajiban ghadul bashar (memelihara pandangan), dan masih banyak lagi. Dari seminar kali ini aku juga dapat kenalan baru, lho! Namanya Kak Faisal, orangnya baik dan banyak mengetahui tentang Islam. Kamu pasti akan suka dia deh, Ry! |
8 Januari 1997,
Ry, aku sudah tau segalanya. Aku harus melupakan "si gadis pujaanku". "Kalau memang jodoh nggak akan kemana", begitu kata kak Faisal. Dan aku jadi sadar bahwa hanya Allah dan Rasul-Nyalah cinta sejatiku. Mulai saat ini pun aku mulai belajar Islam dengan kak Faisal, Ry.
9 Februari 2001,
Empat tahun kemudian … |
Lama aku nggak punya catatan harian, Ry. Sekarang aku sudah dewasa, sudah kerja. Bukan lagi anak SMU ataupun anak kuliahan. Ry, kamu masih ingat kan dengan "si gadis pujaanku"? Sekarang aku sudah tau namanya, bahkan alamatnya. Namanya Safitri Azkiyah tertulis di atas kartu |undangan dengan tinta emas bersama dengan namaku, Adhan Ramadhan, SE. Ya, kamu benar Ry! Dia akan menjadi istriku besok. Kalo jodoh memang tak kan kemana!

Blood Type

February 14th, 2006 by desipurnama
Silahkan Dicocokkan……



Golongan Darah: A, B, O, AB

Di Jepang, ramalan ttg seseorang lebih ditentukan oleh golongan darah daripada zodiak atau shio. Kenapa? Katanya, golongan darah itu ditentukan oleh protein-protein tertentu yang membangun semua sel di tubuh kita dan oleh karenanya juga menentukan psikologi kita. Benar apa tidak?

SIFAT SECARA UMUM

A

terorganisir, konsisten, jiwa kerja-sama tinggi, tapi selalu cemas (krn perfeksionis) yg kadang bikin org mudah sebel, kecenderungan politik: "destra"

B

nyantai, easy going, bebas, dan paling menikmati hidup, kecenderungan politik: "sinistra"

O

berjiwa besar, supel, gak mau ngalah, alergi pada yg detil, kecenderungan politik: "centro"

AB

unik, nyleneh, banyak akal, berkepribadian ganda, kecenderungan politik

BERDASARKAN URUTAN

Yg paling gampang ngaret soal waktu
1 B (krn nyantai terus)
2 O (krn flamboyan)
3 AB (krn gampang ganti program)
4 A (krn gagal dalam disiplin)

Yg paling susah mentolerir kesalahan org :
1 A (krn perfeksionis dan narsismenya terlalu besar)
2 B (krn easy going tapi juga easy judging)
3 AB (krn asal beda)
4 O (easy judging tapi juga easy pardoning)

Yg paling bisa dipercaya :
1 A (krn konsisten dan taat hukum)
2 O (demi menjaga balance)
3 B (demi menjaga kenikmatan hidup)
4 AB (mudah ganti frame of reference)

Yg paling disukai utk jadi teman :
1 O (orangnya sportif)
2 A (selalu on time dan persis)
3 AB (kreatif)
4 B (tergantung mood)

Kebalikannya, teman yg paling disebelin/tidak disukai:
1 B (egois, easy come easy go, maunya sendiri)
2 AB (double standard)
3 A (terlalu taat dan scrupulous)
4 O (sulit mengalah)

MENYANGKUT OTAK DAN KEMAMPUAN 

Yg paling mudah kesasar/tersesat
1 B
2 A
3 O
4 AB

Yg paling banyak meraih medali di olimpiade olah raga: 
1 O (jago olah raga)
2 A (persis dan matematis)
3 B (tak terpengaruh pressure dari sekitar. Hampir seluruh atlet judo, renang dan gulat jepang bergoldar B)
4 AB (alergi pada setiap jenis olah raga)

Yg paling banyak jadi direktur dan pemimpin
1 O (krn berjiwa leadership dan problem-solver)
2 A (krn berpribadi "minute" dan teliti)
3 B (krn sensitif dan mudah ambil keputusan)
4 AB (krn kreatif dan suka ambil resiko) 

Yg jadi PM jepang rata2 bergolongan darah
1 O (berjiwa pemimpin)

Mahasiswa Tokyo Univ pada umumnya
bergol darah : B

Yg paling gampang nabung :
1 A (suka menghitung bunga bank)
2 O (suka melihat prospek)
3 AB (menabung krn punya proyek)
4 B (baru menabung kalau punya uang banyak)

Yg paling kuat ingatannya

1 O
2 AB
3 A
4 B

Yg paling cocok jadi MC :
1 A (kaya planner berjalan)

MENYANGKUT KESEHATAN 

Yg paling panjang umur :

1 O (gak gampang stress, antibodynya paling joss!)
2 A (hidup teratur)
3 B (mudah cari kompensasi stress)
4 AB (amburadul) 

Yg paling gampang gendut
1 O (nafsu makan besar, makannya cepet lagi)
2 B (makannya lama, nambah terus, dan lagi suka makanan enak)
3 A (hanya makan apa yg ada di piring, terpengaruh program diet)
4 AB (Makan tergantung mood, mudah kena anoressia)

Paling gampang digigit nyamuk :
O (darahnya manis)

Yg paling gampang flu/demam/batuk/pilek
1 A (lemah terhadap virus dan pernyakit menular)
2 AB (lemah thd hygiene)
3 O (makan apa saja enak atau nggak enak)
4 B (makan, tidur nggak teratur)

Apa yg dibuat pada acara makan2 di sebuah pesta :
O (banyak ngambil protein hewani, pokoknya daging2an)

A (ngambil yg berimbang. 4 sehat 5 sempurna)

B (suka ambil makanan yg banyak kandungan airnya spt soup, soto, bakso dsb)
AB (hobby mencicipi semua masakan, "aji mumpung")

Yg paling cepat botak :
1 O
2 B
3 A
4 AB

Yg tidurnya paling nyenyak dan susah dibangunin :
1 B (tetap mendengkur meski ada Tsunami)
2 AB (jika lagi mood, sleeping is everything)
3 A (tidur harus 8 jam sehari, sesuai hukum)
4 O (baru tidur kalau benar2 capek dan membutuhkan)

Yg paling cepet tertidur
1 B (paling mudah ngantuk, bahkan sambil berdiripun bisa tertidur)

2 O (Kalau lagi capek dan gak ada kerjaan mudah ken ngantuk)
3 AB (tergantung kehendak)
4 A (tergantung aturan dan orario)

Penyakit yg mudah menyerang :
A (stress, majenun/linglung)
B (lemah terhadap virus influenza, paru-paru)

O (gangguan pencernaan dan mudah kena sakit perut)

AB (kanker dan serangan jantung, mudah kaget)

Apa yg perlu dianjurkan agar tetap sehat :
A (Krn terlalu perfeksionis maka nyantailah sekali-kali, gak usah terlalu tegang dan serius)

B (Krn terlalu susah berkonsentrasi, sekali-kali perlu serius sedikit, meditasi, main catur)

O (Krn daya konsentrasi tinggi, maka perlu juga mengobrol santai, jalan-jalan)
AB (Krn gampang capek, maka perlu cari kegiatan yg menyenangkan dan bikin lega).

Yg paling sering kecelakaan lalu lintas (berdasarkan data kepolisian)

1 A
2 B
3 O
4 AB